Mimpi di Dalam Mimpi dan Mimpi (ngakak!)


17719672mimpi-big

Kalau bermimpi sih boleh-boleh saja, tapi tokoh yang dibawah ini kerjanya mimpi yang sudah kelewat tidak wajar, maksudnya? makanya yuk… kita lihat sama-sama dibawah ini 😀



Sumber

Iklan

Kisah Nyata yang Mengharukan dari Seekor Lumba-Lumba


57597044009588267956981ATN – Mengharukan! Seekor induk lumba-lumba membopong jasad bayi lumba-lumba menuju lautan dalam di wilayah Qinzhou, Provinsi Guangxi, China.

Adegan yang terjadi pada Minggu (8/7/2012) itu berhasil diabadikan seorang warga setempat dan menguploadnya ke situs berbagi video Youku, situs yang hampir mirip dengan YouTube.
Sejak diunggah Rabu (18/7/2012), video tersebut sudah ditonton 1,3 juta pengunjung. Banyak komentar yang bernada simpati atas kejadian yang dialami si induk lumba-lumba.

“Tak masalah bila kau sudah tiada nak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu”. Aku akan selalu membawa mu pulang,” tulis seorang pengunjung Youku menafsirkan adegan tersebut seperti dilansir situs Chinasmack. Video berdurasi kurang dari dua menit itu memperlihatkan usaha sang induk lumba-lumba yang berusaha membopong anaknya yang mati akibat luka di perut. Meski gagal berkali-kali akibat tingginya gelombang, tapi si induk tetap berjuang membawa jasad anaknya di punggungnya.

Adegan itu terus berulang-ulang. Saat jasad anaknya tergelincir dan tenggelam, sang induk segera berbalik dan menyelam untuk membawa anaknya ke permukaan lagi.

Pada akhirnya, perjuangan mamalia sepanjang tiga meter itu akhirnya berhasil. Dia segera berenang dengan kecepatan 40 km/jam ke lautan dalam.

Ini dia videonya gan, mengharukan sekali : 

 

Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan


 

Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.

 

Sebagai contoh ayat di bawah:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

 

Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.

 

Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.

 

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

 

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

 

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

 

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

 

Langit yang mengembang (Expanding Universe)

 

Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

 

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

 

Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

 

Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.

 

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

 

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

 

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.

 

Gunung yang Bergerak

 

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

 

14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

 

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

 

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

 

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

 

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

 

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

 

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

 

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

 

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

 

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

 

Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia

 

“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)

 

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

 

Diselamatkannya Jasad Fir’aun

 

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]

 

Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.

Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

 

Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

 

Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan

 

Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

 

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]

 

Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

 

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

 

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

 

Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.

Resonansi konflik Mesir untuk perjuangan Islam di Indonesia


Resonansi konflik Mesir untuk perjuangan Islam di Indonesia

  
(Aktivis gerakan revivalis Islam Indonesia)

  Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Termasuk konflik politik  di Mesir. Hikmah terbesar yang bisa dipetik dari konflik Mesir adalah perlunya penyatuan visi perjuangan umat Islam. Dan Kesatuan itu akan mampu diwujudkan dengan jalan diantaranya memiliki pandangan yang sama tentang : 1) Problema pokok dan mendasar yang dihadapi, 2) Solusi atas problema pokok dan mendasar tersebut dan 3) Cara perjuangan yang ditempuh sebagai solusi. Penyatuan visi perjuangan Islam tersebut bisa dilakukan melalui mekanisme kontak dan silaturahim yang masif dan sistematis.

Tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme membangun wacana saja. Seperti menyampaikan press release atau membuat analisis politik terkait dengan persoalan yang dihadapi. Tetapi pola silaturahim dan kontak yang masif dan sistematis mesti dilakukan. Kalau perlu masuk menjadi bagian anggota organisasi/jamaah islam lain yang jelas-jelas basis ideologi, metode dan arah perjuangannya. Mengingatkan dari dalam, tentu menjadi lebih efektif ketimbang mengingatkan dari luar. Masuknya anggota-anggota gerakan Islam ideologis ke dalam gerakan-gerakan islam yang lain akan menumbuhkan rasa ukhuwah Islamiyah yang luar biasa.

Tentu ini bukan dalam bingkai pengaburan anggota gerakan/jamaah Islam terhadap manhaj gerakan yang diyakini masing-masing. Atau menjadikan wasilah silaturahim itu sebagai sesuatu untuk menghalalkan segala cara. Hubungan antar jamaah/gerakan Islam lebih spesifik lagi hubungan antara anggota gerakan/jamaah Islam yang intensif, masif dan sistematis akan memiliki implikasi positip yang multiple. Selain berguna merevitalisasi aktivitas gerakan, juga berfungsi sebagai kontrol terhadap semua agenda pergolakan yang diharapkan berimplikasi luas secara kolektif. Ini sekaligus sebagai media untuk mengeliminasi segala bentuk sekat-sekat kelompok pergerakan yang sudah menjadi thobi’I. Seperti misalnya Islam untuk menghimpun kekuatan umat menjadi satu kekuatan pergolakan yang dahsyat.

Ada beberapa hal penting yang bisa kita petik dari peristiwa konflik Mesir antara lain :

Pertama, kekalahan Mursy adalah representasi kekalahan kaum muslimin secara menyeluruh karena terkotak-kotak dalam sekat-sekat arogansi kepentingan kelompok dan arogansi keyakinan sempit terhadap manhaj perjuangan. Selain kekuatan militer, di Mesir kaum muslimin terpetak-petak dalam ragam kelompok-kelompok antara lain : 1). Ikhwanul Muslimin dengan sayap partainya Partai  Kebebasan dan Keadilan sebagai pendukung Mursy, 2) Tamarroud pendukung Mubarak yang anti Mursy, 3) Tajarroud kompetitor Tamarroud yang mengklaim pengerahan massa puluhan juta untuk gerakan anti Mursi,  4) Partai An Nuur dan Salafis. Partai An Nuur adalah partai terbesar setelah ikhwanul Muslimin. Partai ini cenderung memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Belakangan justeru ikut mendukung kudeta militer. 5) Al Azhar adalah perguruan pendidikan rujukan di Mesir maupun negeri-negeri kaum muslimin yang lain. Al Azhar merasa khawatir karena para petingginya akan diganti oleh para petinggi Ikhwanul Muslimin. Begitu ragamnya kelompok/gerakan Islam yang masing-masing “keukeuh” dengan kepentingan kelompoknya menjadi sasaran empuk AS dan sekutu-sekutunya untuk memetakan dan memecah belah kaum muslimin di Mesir.

Kedua, dominannya kelompok liberal yang diback up oleh militer didikan AS -Al Sisi- menunjukkan begitu besarnya intervensi sistematis secara politis AS untuk tetap mengawal dan menentukan peta konstelasi politik Mesir. AS juga memanfaatkan psikologi milliter Mesir yang masih memiliki semangat peninggalan lama jaman Hosni Mubarak. AS bermain di dua kaki. Dengan militer di satu sisi dan seolah-olah juga melakukan pembelaan terhadap Mursy. Ujung dari keinginan AS adalah siapapun pemimpin ke depan Mesir harus dipastikan tetap bisa mengamankan kepentingan geo ekonomi politik AS bersama kanca-kancanya di kawasan tersebut.

Ketiga, hanya ada dua polarisasi kekuatan politik yang besar saat ini di Mesir. Dan semua kekuatan-kekuatan politik yang ada di Mesir akan mengikuti mainstream salah satu dari dua kekuatan besar itu. Yang pertama adalah kekuatan militer bersama kelompok liberal. Yang kedua adalah kekuatan pro Mursy terutama dari kekuatan politik Ikhwanul Muslimin yang tetap menghendaki Mursy sebagai presiden yang legitimate. Barang siapa yang ikut menentang atau tidak sepakat dengan Mursy maka kelompok-kelompok itu akan terkanalisasi ke dalam kepentingan kelompok militer dan pro liberal yang diback up oleh AS bersama sekutu-sekutunya. Begitu sebaliknya. Kecuali yang hanya ingin menjadi penonton, pengamat atau komentator saja. Ikhwanul Muslimin yang mendukung Mursi dengan segala pro kontranya versus kelompok liberal bersama militer adalah sebuah gambaran lemahnya kesatuan dan dukungan kaum muslimin untuk memperjuangkan agenda perjuangan Islam bersama melawan penjajahan AS bersama dengan para antek-anteknya.

Konstruksi Perjuangan Islam di Indonesia

Perjuangan Islam di Indonesia telah melampaui masa perjuangan dari waktu ke waktu jauh sebelum Indonesia ada. Saat itu Indonesia masih dikenal dengan sebutan nusantara. Perjuangan Islam di negeri ini telah mengalami dinamika yang cukup variatif. Mulai dari nuansa penuh kedamaian sampai dengan nuansa pergolakan senjata. Kita mengenal Perang Paderi oleh Imam Bonjol, Cut Meutia, Cut Nyak Dien, Sultan Hasanuddin di luar Jawa dan di Jawa ada Perang Diponegoro oleh Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, Ali Basyah Sentot Prawirodirjo, dan Fatahillah. Kita juga mengenal perjuangan Islam di dataran Jawa oleh Wali Songo yang sejatinya adalah para penguasa di tanah Jawa. Semua para pejuang Islam itu adalah para pejuang yang berjuang mensyi’arkan Islam dan menjadikan Islam sebagai hukum negara.

Perjuangan Islam di Indonesia memberikan legitimasi secara historis bahwa umat Islam di Indonesia adalah umat yang konsisten bersatu untuk mengenyahkan segala bentuk penjajahan di Indonesia. Adalah umat Islam yang sepenuhnya  selalu memiliki rumusan yang jelas siapa kawan dan siapa lawan. Memiliki agenda dan musuh bersama yakni penjajahan yang menguasai wilayah dan tanah-tanah negeri-negeri kaum muslimin. Hingga sampai tiba waktunya Indonesia masuk pada masa perjuangan parlemen dari era perang fisik berubah menjadi perang diplomatik di pentas panggung politik praktis pada tahun 1955 an. Saat pertama kali diperkenalkan pemilu. Di pentas itulah berkembang kekuatan-kekuatan politik yang mengendalikan keputusan-keputusan politik negeri ini. Poros aliran ideologi politik berkompetisi cukup ketat. Ada aliran ideologi politik sosialis, nasionalis, komunis, liberalis dan Islam. Saling tarik ulur memperebutkan pengaruh dominan di tubuh parlemen.

Dinamika pergolakan pengaruh kekuatan-kekuatan politik berkompetisi sedemikian ketat. Hingga kemudian kita menemukan masa hingga saat ini. Dimana representasi kekuatan politik Islam kurang nampak dominan bahkan terjadi sebuah proses sistemik eleminasi kekuatan politik islam tahap demi tahap. Di era sekarang kekuatan politik di dalam parlemen yang menonjol adalah kelompok liberalis dan nasionalis. Kekuatan politik Islam yang benar-benar memperjuangkan Islam bukan saja sebagai prinsip-prinsip yang hanya diadopsi spirit substansinya saja melainkan yang berjuang benar-benar untuk menjadikan Islam sebagai hukum negara minim sekali.

Mengambil hikmah krisis politik di Mesir untuk merumuskan konstruksi perjuangan Islam di Indonesia maka ada beberapa hal penting  yang perlu dilakukan :

Pertama, mendorong dan menekan penguasa untuk mengurangi dan bahkan memutuskan ketergantungan pada penjajah AS bersama sekutu-sekutunya. Yakni memutuskan ketergantungan semua bidang terutama bidang ekonomi politik sebagai sesuatu yang sangat penting bagi sendi-sendi kehidupan.  Termasuk ketergantungan kepada seluruh piranti-piranti badan-badan internasional (IMF, World Bank, dan lain-lain) yang menjadi perpanjangan tangannya. Karena ketergantungan tersebut menjadi pintu masuk penjajahan.

Kedua, menyatukan visi perjuangan yang sama di antara berbagai kelompok/gerakan/organisasi massa Islam dengan berbagai perbedaan manhaj perjuangan terutama organisasi massa Islam yang besar  untuk menghadapi dan menghalau agenda busuk kelompok liberal yang menjadi perpanjangan tangan para penjajah. Agenda busuk kelompok liberal di antaranya mempengaruhi proses pengambilan keputusan penting di negeri ini melalui mekanisme legislasi di parlemen untuk kepentingan para penjajah.

Ketiga, melakukan pendekatan kepada kekuatan militer sebagai simpul kekuatan riil negara agar meyakini sekaligus membantu agenda perjuangan Islam untuk membebaskan penghambaan manusia atas manusia menuju penghambaan manusia atas Tuhan di semua aspek kehidupan. Beralihnya penghambaan kepada Tuhan sejatinya adalah diterapkannya aturan/hukum yang datang dari Sang Pencipta sebagai pemecahan persoalan kehidupan manusia secara sistemik dan komprehensif.

Keempat, membangun kesadaran masyarakat secara umum yang mayoritas muslim tentang arti pentingnya meyakini dan menjalankan ajarannya sendiri Al-Islam secara paripurna dan menyeluruh. Sekaligus mengajak masyarakat untuk berjuang bersama menjadikan Al-Islam ajaranya sendiri sebagai satu-satunya sistem keyakinan yang mengatur seluruh aspek kehidupannya dalam bingkai negara.

Pada akhirnya mari kita perlu renungkan apa yang disampaikan oleh Rasullullah SAW tentang pentingnya membangun kesatuan untuk mewujudkan kekuatan besar umat Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِبِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur” [HR Imam Muslim dalam Shahih-nya]. Wallahu a’lam bis shawab.

Peluncuran Situs Darussalam Online, agar jamaah bisa terus mengaji dimanapun dan kapanpun


Sadar akan pentingnya peran media dalam merealisasikan visi menuju kebangkitan Islam yang kaffah serta agar masjid Darussalam Kota Wisata akan menjadi model pemersatu ummat maka diluncurkan media online yang bernama Darussalam online dan Darussalam TV, di Cibubur Ahad (28/7/2013).

Kedua situs itu bisa di klik di www.darussalam-online.com dan www.darussalam.tv .

Ketua Dewan Pembina Masjid Darussalam Kota Wisata Iwan Ridwan mengatakan peluncuran situs ini untuk penyebarluasan acara-acara pengajian dan kuliah yang diselenggarakan di masjid. Dengan demikian dakwah Islam semakin tersebar luas dan dapat diakses darimanapun dan kapanpun.

Kepada para awak media Islam yang tergabung di JITU, Iwan mengisahkan kepedulian untuk memperluas jangkauan pengajian ta’lim di masjid Darussalam, justru datang dari salah seorang jamaah yang rajin merekam dengan kamera setiap ada even pengajian atau kuliah.

Ketika pengurus masjid menanyakan kepada jamaah tersebut untuk apa dia selalu merekam acara pengajian ta’lim tersebut, jamaah tersebut menjawab “Agar anak dan istrinya bisa ikut mengaji dengan melihat video rekaman ini,” katanya. Demikian kisah Iwan Ridwan.

Dari situ muncul gagasan untuk membuat Darussalam Online dan Darussalam TV. Situs Darussalam online berkonsentrasi untuk mempublikasikan seluruh kegiatan di masjid Darussalam Kota Wisata, utamanya kegiatan dakwah yang berupa kajian-kajian rutin, khutbah jum’at dan bedah buku.

Adapun Darussalam TV merupakan salah satu menu sajian situs Darussalam online. Dengan sajian ini, seluruh jamaah masjid Darussalam khususnya dan umat muslim dimanapun berada dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dakwah baik melalui kajian rutin, khutbah Jum’at ataupun daurah di Masjid Darussalam secara langsung tanpa terbatas oleh tempat. Dengan demikian diharapkan dakwah masjid Darussalam tersebar luas dan manfaatnya dapat dirasakan oleh mayorita kaum Muslimin.

Selain Darussalam TV, konten-konten lain dari situs Darussalam online adalah radio streaming, transkrip materi kajian, video, audio, berita dan galeri.

Yang cukup menonjol adalah konten transkrip materi kajian. Materi yang disampaikan pada kajian rutin Sabtu Subuh, Sabtu sore, Sabtu malam, Ahad Subuh, Ahad malam dan kajian khusus muslimah di transkrip dalam bentuk tulisan. Sehingga para jamaah kaum Muslimin dapat mempelajari lagi, penjelasan lengkap tentang materi yang dibahas oleh para ustadz yang ahli dibidangnya di rumah, dan menyebarluaskannya.

Situs Darussalam online di desain sedemikian rupa sehingga dapat diakses melalui PC, laptop, ipad, tablet, blackberry, android dan semua jenis gadget. Selamat..

Gambar

Foto pembebasan kota Khan al-Asal di Aleppo oleh Jabhah Nushrah


 
 
 
 
Image 1 of 9 – Baku tembak mujahidin dengan pasukan rezim murtad Suriah – Khan al-Asal

HOMS (Arrahmah.com) – Di bulan suci Ramadhan 1434 H ini, ranjau-ranjau Jabhah Nushrah menyiutkan nyali pasukan musuh. Subhanallah, saksikanlah wahai kaum muslimin.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

logo JN lagi

Jabhah Nushrah – Penjelasan no. 348
Laporan sebagian serangan dengan ranjau di Homs – Ramadhan 1434 H

Segala puji bagi Allah Yang menjadikan jihad di jalan-Nya sebagai puncak ketinggian ajaran Islam. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi yang diutus dengan pedang untuk meninggikan menara Islam, nabi kita Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du.

Allah Maha Melaksanakan urusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak memahaminya. 

Jabhah Nuhsrah li-Ahli Syam
Yayasan Media Al-Manarah al-Baidha’ 

Janganlah Anda melupakan kami dalam doa Anda
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam
Rabu, 15 Ramadhan 1434 H / 24 Juli 2013 M

Gelombang Ledakan Hantam Bagdad, 34 Terbunuh


 

Gelombang Ledakan Hantam Bagdad, 34 Terbunuh

Polisi Irak berjaga-jaga di lokasi meledaknya bom mobil di Baghdad (25/6). REUTERS/Thaier al-Sudani

Sebuah gelombang ledakan bom mobil menghantam Bagdad, Senin pagi wamtu setempat, 29 Juli 2013, menewaskan sedikitnya 34 orang. Demikian keterangan petugas keamanan dan medis, Senin, 29 Juli 2013.

Sebanyak sembilan bom mobil meledak di tujuh kawasanberbeda di Bagdad, lima di antaranya meledak di kawasan hunian kaum Syiah, sedangkan ledakan bom lainnya meletup di Mahmudiyah, sebelah selatan ibu kota. 

Selain melumat 34 nyawa, ledakan bom ini juga melukai 129 korban lainnya. Dua bom meledak di Kut, sebelah tenggara ibu kota Irak menyebabkan setidaknya lima orang mati dan 35 luka-luka.

Dengan demikian, hingga Juli 2013 ini, lebih dari 770 orang telah menemui ajal akibat kekerasan. Sedangkan bilan dihitung sejak awal tahun ini, menurut AFP mengutip keterangan sumber keamanan dan medis, lebih dari 3.000 orang telah tewas.

Irak dihadapkan pada serangan kelompok militan selama beberapa tahun ini, namun para pengamat mengatakan, sumber kekerasan itu berasal dari ketidakpuasan yang meluas di antara anggota minoritas Arab Sunni. 

Egypt: Many Protesters Shot in Head or Chest


 

  • Medical volunteers and supporters of deposed President Morsy comfort a man who lost a relative during clashes with police.

    © 2013 Reuters
  • Bodies of supporters of deposed President Morsy are laid at a field hospital near the scene of clashes in Nasr city.

    © 2013 Reuters
RELATED MATERIALS: 
The use of deadly fire on such a scale so soon after the interim president announced the need to impose order by force suggests a shocking willingness by the police and by certain politicians to ratchet up violence against pro-Morsy protesters.
Nadim Houry, deputy Middle East and North Africa director

(London) – Many of the at least 74 pro-Morsy protesters killed in clashes with Egypt’s riot police and plain clothed men who stood alongside were shot in the head or chest. They were killed on July 27 over a period of several hours during clashes on a road near the Muslim Brotherhood’s sit-in at Rabaa al-Adawiya in eastern Cairo.

Human Rights Watch interviewed seven witnesses to the violence and reviewed extensive video footage of the events. Medical staff interviewed by Human Rights Watch judged some of the deaths to be targeted killings because the position of the shots would likely result in death. 

The violence came hours after Interim President Adly Mansour announced, “the state has to impose order by all force and decisiveness.” The same day, Interior Minister Gen. Mohammed Ibrahim warned that security forces would be clearing pro-Morsy sit-ins from Rabaa and Nahda squares “soon.”

Protesters were shot and killed over a period of at least six hours, during clashes with Central Security Forces (riot police) on a major Cairo road. Human Rights Watch was in the field hospital as many of the dead and wounded were brought in, and was told by medical staff that  the “majority of the bullet injuries were to the head, neck, and chest.” Four doctors interviewed said that the angle of gunshot wounds indicated they were shot from above.

The Ministry of Health announced that at least 74 civilians died in the morning’s violence. At a press conference earlier that day, the minister of interior insisted that “We never, as police, pointed any firearms at the chest of any demonstrator.”

“The use of deadly fire on such a scale so soon after the interim president announced the need to impose order by force suggests a shocking willingness by the police and by certain politicians to ratchet up violence against pro-Morsy protesters,” said Nadim Houry, deputy Middle East and North Africa director at Human Rights Watch. “It is almost impossible to imagine that so many killings would take place without an intention to kill, or at least a criminal disregard for people’s lives.”

According to seven witnesses and footage reviewed by Human Rights Watch, protesters threw rocks and teargas canisters at the police. Egypt’s minister of interior, during a press conference held later the same morning, said that police officers had sustained injuries from both birdshot and live fire, but cited no police fatalities as a result of the clashes that lasted at least nine hours. Riot police maintained their position on the road, blocked by armored vehicles, for at least 11 hours.

Protesters at the clashes and doctors providing first aid to protesters said that the first shots were fired against protesters at approximately 1 a.m., and witnesses said they continued until at least 7 o’clock in the morning.

Egypt’s military and civilian interim rulers should immediately order an end to the use of live gunfire except where strictly necessary to protect life, Human Rights Watch said.

According to seven witnesses and footage reviewed by Human Rights Watch, the clashes between pro-Morsy supporters and police accompanied by men dressed in civilian clothes began at approximately 11 p.m., as pro-Morsy protesters approached the off ramp of the 6th of October bridge leading to Nasr Road. The site was just a few minutes’ walk from Rabaa mosque, where pro-Morsy supporters have been staging a 30 day sit-in. A doctor who was accompanying the protesters said that police, accompanied by men in plain clothes and armored police vehicles, were under the 6th of October bridge and initially fired teargas at the crowd. In videos posted online, Human Rights Watch also viewed a large group of civilians standing opposite pro-Morsy protestors, flanked by at least four armored police vehicles and personnel carriers, as well as Central Security Force officers.

According to a doctor who was at the scene, the police began to fire teargas when the protesters were approximately 200 meters away. A skirmish ensued between the protesters and the police and men in civilian clothes, lasting for about two hours: protesters set cars on fire and threw rocks, while police fired birdshot and more teargas from their position near the bridge. The doctor told Human Rights Watch that after approximately two hours, live bullets were fired at the protesters from what appeared to be an elevated position, possibly from a nearby building. The timing was corroborated by two other witnesses. Fouad, another doctor working in the Rabaa field hospital, said, “The pattern of injuries we saw here was completely the opposite of the Republican Guard. In the Republican Guard incident [on July 8, 2013] it was mostly random live fire, it only looked like 10 percent [of those killed] were shot by snipers. This time it was like 80 percent were shot by snipers targeted from above.”

The violent response by the police came after days of official statements threatening severe responses to deal with the Muslim Brotherhood protests. On Wednesday July 24, Defense Minister Gen. Abdel Fattah al-Sisi called for Egyptians to gather “to give [him] a mandate and an order to confront potential violence and terrorism.”

Just before 1 a.m. on July 27, Interior Minister Gen. Mohammed Ibrahim announced that the ministry would clear pro-Morsy protests at Nahda Square in Giza and at the Rabaa al-Adawiya mosque in Nasr City “soon” and “in a legal way,” according to the Ahram daily newspaper. In a televised interview with al-Hayat channel shortly after, Interim President Adly Mansour said that the government “cannot accept security disorder, cutting roads and bridges, attacking public buildings. The state has to impose order by all force and decisiveness.”

Ibrahim, a medic who accompanied the protesters, said they were approaching the bridge when they were blocked by Central Security Force police wearing black uniforms. Another protester described how, while the police fired teargas, he and other protestors threw rocks at the police and civilians standing opposite them, and how the others threw rocks as well. Ahmed, another protestor, said he and others picked up teargas canisters thrown into the crowd and lobbed them back towards the opposite side.

The police responded by firing teargas and birdshot at the crowd, protesters said. Within two hours, beginning after 1 a.m., three witnesses reported that live bullets were fired into the crowd, followed by more teargas, which protesters described as “dense.” One protester interviewed said that he fainted at the site from teargas inhalation and woke up in the field hospital.

Four eyewitnesses who were with the protesters described the sounds of successive gun shots and men in the crowd falling to the ground. Ibrahim, a doctor treating protesters at the site, told Human Rights Watch, “at 11 p.m. they fired teargas and birdshot; the teargas continued and then the live fire started. It was aimed single-fire.” Eyewitnesses repeatedly told Human Rights Watch that the scene was dark and the air heavy with teargas, limiting their visibility, but that they were being fired upon from an elevated position, as well as by the police positioned in front of them. Beginning at approximately 1:30 a.m., Ibrahim said, “I picked up five men all [hit] with a single shot to the head.” 

At approximately 1:45 a.m., the first dead body arrived at the Rabaa al-Adawiya field hospital, a witness who recorded the details at the time told Human Rights Watch. Four doctors interviewed at the field hospital said that fatalities arrived in a steady stream beginning at approximately 2 a.m. and ending between 7 and 8 a.m. Another doctor who treated protesters with emergency first-response care, Mohammed, told Human Rights Watch that at around 2:45 a.m., he started consistently treating protesters who had been shot in the head and chest, as well as others wounded by birdshot.

Human Rights Watch arrived at the Rabaa al-Adawiya field hospital at approximately 4:30 a.m. to find a steady stream of wounded being carried into the hospital. During a 30 minute period, eight men with bullet injuries entered the hospital, of whom five had been shot with live bullets in the head, neck, or upper chest. During the next two and a half hours, Human Rights Watch researchers saw approximately six dead bodies being brought from the protest frontline into the makeshift field clinic. Medical staff told researchers that at least two of the dead, including a 22-year-old man and a 17-year-old boy, had received single gunshot wounds to the forehead.

Doctors at the field hospital told Human Rights Watch that they had moved at least two other bodies with identical wounds to the nearby Health Insurance Hospital. The four other fatalities witnessed by Human Rights Watch sustained single gunshot wounds to the chest and torso.

“Opening deadly fire for hours on end is no way to respond to civilians who are mainly throwing stones and teargas canisters,” Houry said. “If this is the new leadership’s idea of a ‘lawful’ response, it sets a very grim tone for days to come.”

During a press conference conducted at approximately 12:30 p.m. on July 27, Interior Minister Gen. Mohammed Ibrahim announced:

“[Protesters] were trying to block the bridge. We were successful in driving them back to the military parade grounds using only teargas. At this point we were surprised to find them firing live ammunition, birdshot, and throwing stones on security forces. This continued for some time, when some residents from nearby neighborhoods came to fight with them [the pro-Morsy protesters], and the back and forth continued with us attempting to separate between the two sides through the early hours of the morning. 

[From the] security forces, I have a large number of wounded with birdshot and live rounds from among the conscripts; maybe the worst of these is two officers currently in the Nasr City hospital. One has a bullet wound to the head, entering through his left eye and exiting through the right, in addition to birdshot pellets in his [inaudible] and stomach. 

We never, as police, pointed any firearms at the chest of any demonstrator.”

Over the past several years Human Rights Watch has documented the shooting of protesters with live ammunition and birdshot by the Central Security Forces, including during the uprising in January 2011, in November 2011 during the Mohamed Mahmoud protests which left 45 dead, and in January 2013 in Port Said which left 46 dead. The ministry of health put the death toll at 74 by the end of the day. 

Under international human rights standards applicable to Egypt at all times, law enforcement officials need to take all reasonable steps to protect lives, especially when aware of specific threats. But they may only use intentional lethal force when it is strictly necessary to protect life. Both the past excessive use of lethal force and police failure to minimize casualties during protests indicate the pressing need for security sector reform and accountability for abuses perpetrated by the police and military.

 

Former Indonesian


ruler Suharto died last month a very wealthy man. In 1999, a year after he stepped down as Indonesia’s second president, Time magazine reported his wealth at US$15 billion. 

“Not bad for a man whose presidential salary was $1,764 a month when he left office,” the magazine reported. 

And not bad for a peasant boy born in 1921 in Kemusuk, a small Javanese village, during Dutch colonial control. Suharto’s route to power and wealth was through the military. In 1954, he took a new job in Semarang, on the north coast of Java, only a three-hour drive from his military base in Jogjakarta. It thrust the 33-year-old Javanese officer into a totally different world. 

Before the 1954 promotion, Suharto had been a field commander. Now, as head of the Diponegoro military command in Semarang, his immediate job was not to lead military operations, but to feed the thousands of troops under him. His new division consisted of an assortment of thugs and soldiers, bandits and militias. And like most post-independence armies, it was poorly funded. 

If Suharto was to succeed in the new Indonesia that was emerging after World War II, he would have to find ways to keep the army in food and equipment. He looked to the example of his wife, Siti Hartinah. Although she came from Javanese aristocracy, she was supporting the family, which already had three young children, with the small garment trade she had started. 

Suharto, too, turned to business — mainly smuggling such consumer goods as sugar and rice between Singapore and Java. He defended running a business out of the army as essential to feeding his men. 

Key to his operations from the start were two men who would remain his business associates for almost half a century. Suharto’s tie to Liem Sioe Liong, a Fujian-born Chinese merchant who had migrated to Java in 1938, was to become one of the most important alliances in his New Order regime. Suharto also befriended sportsman-cum-businessman Bob Hasan, whose godfather was an army general. 

The relationships were mutually beneficial. Suharto used his troops and position to protect the lucrative smuggling; Liem and Hasan helped supply the troops and provide Suharto with business opportunities. 

According to George J. Aditjondro, a corruption researcher who spent two decades tracing the Suhartos’ fortune, Suharto basically built his “business model” in the city of Semarang and gradually expanded it, enlisting other officers and businessmen along the way. 

In 1956-1957, his Diponegoro operations came crashing down. Suharto was found guilty of smuggling, and army head Colonel Abdul Harris Nasution tried to remove him. But Bob Hasan’s godfather, Colonel Gatot Subroto, defended his protégé. Army headquarters defused the scandal by sending Suharto to an officer-training program in Bandung, in West Java. 

Within two years, he bounced back, won another promotion, and took command of the Kostrad army reserve in Jakarta. The problem of supplying troops remained the same, as did Suharto’s solution of choice. He bought his business partners along with him to Jakarta. 

Suharto’s political career took another turn on September 30, 1965, when hundreds of army officers kidnapped and killed several generals. Suharto knew of the plan in advance since most of the kidnappers were his Diponegoro colleagues. They reportedly planned to bring the generals, including Nasution, who had allegedly planned a coup, to face President Sukarno. 

The next day, Suharto decided to move against his former colleagues. Blaming the communists, his troops began a slow purge against Sukarno, Indonesia’s first president. The ensuing maelstrom of violence killed three million people between October 1965 and March 1966, according to one of his officers, Major General Sarwo Edhie Wibowo. 

By 1968, at 47 years old, Suharto had emerged as Indonesia’s number one man. He sidelined Sukarno and ruled the country with an iron fist for the next 30 years. 

Human Rights

Suharto has been accused of a wide variety of human rights abuses. In 1975, he ordered his troops to invade East Timor. The estimated death toll included up to 200,000 East Timorese, 100,000 in West Papua, and tens of thousands more in Aceh, Lampung, Tanjung Priok, West Kalimantan and elsewhere. Even while partnered with Liem and other Chinese tycoons, he systematically discriminated against the Chinese minority in Indonesia. The East Timor Action Network, a New York-based human rights group, called Suharto, “one of the worst mass murderers of the 20th century.”

In his official biography, Suharto admitted that in 1983-1984 he had ordered “mysterious shooters” to kill between 2,000 and 3,000 thugs, thieves and robbers. This “shock therapy,” as Suharto called the killings, earned him the nickname “Gali Pelarian Kemusuk” or “The Thug from Kemusuk.” 

Joining Thuggery and Profits

But Suharto was no ordinary thug. He was a business-minded one. Between 1971 and 1972, he and Liem set up giant wheat flour manufacturing plants. PT Bogasari Flour Mills, the foundation of Indofood, is now the world’s largest instant noodle manufacturer. Liem also set up Bank Central Asia, one of Indonesia’s largest private banks, in which Suharto’s children owned shares. 

Throughout his rule, Suharto has been implicated in systemic corruption and cronyism that distorted Indonesia’s economy. When the economy boomed in the 1970s, along with increased oil prices, Suharto ordered his U.S.-trained economic ministers to issue regulations that included deducting small amounts of money from the salaries of civil servants for charity. The “donation” was automatically channeled to his Supersemar Foundation and Dakab Foundation and some of the funds did help the poor, provide student scholarships and build mosques. Suharto’s Dharmais Foundation established one of the biggest cancer hospitals in Jakarta. 

But from the 1980s, the recipients of the charity also included Suharto and his cronies who invested the money in dozens of companies. Later, his economic ministers issued regulations that granted monopolies to favored companies. Liem won government contracts to supply wheat flour and cloves. Hasan won millions of forest concessions and won the nickname “Raja Hutan” or “King of the Jungle.” 

George Aditjondro, who has tracked the family’s fortune, wrote that Suharto established at least 40 foundations since the 1950s. The family owned shares in large companies, including in the cement and fertilizer industries, toll roads and oil palm plantations. 

In the late 1980s, when Suharto’s six children came of age, they joined the business, helped by “Uncle Liem” and “Uncle Bob.” Hasan joined with Suharto’s eldest son, Sigit Harjojudanto, to set up PT Nusantara Ampera Bhakti, a holding company in mining and telecommunications. Supersemar, Dharmais and Dakab also own shares. 

The middle son, Bambang Trihatmodjo, established ties with the army-owned Kartika Eka Paksi Foundation, and shared ownership with Hasan in his international timber corporations. Hasan’s paper mill, PT Kiani Lestari, received funds from Suharto’s foundations. The youngest son, Hutomo Mandala Putra, also linked up with a Hasan operation, Sempati Airlines. When Suharto’s wife died in 1995, “Uncle Bob” became Suharto’s main advisor on the children’s businesses. 

Demands For Prosecution 

By the time Suharto finally stepped down from power in May 1998, he was facing street protests and the Asian economic crisis. The value of the Indonesian rupiah against the American dollar fell from 2,300 to 10,000. Many civil society organizations demanded that his successors prosecute Suharto and his cronies for criminal corruption. 

M. Fadjroel Rachman, a former political prisoner who campaigned for prosecuting the Suhartos, said that the government should take over the Suhartos’ fortune. Rachman especially targetted the former president’s six children and one grandchild: Siti Hardiyanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi, Hutomo Mandala Putra, Siti Hutami Endang Hadiningsih and Ari Harjo Wibowo. Ari is Sigit Harjojudanto’s son, and Suharto’s eldest grandchild. 

The family was protected not only by its vast wealth, but also by the network of cronies that also benefited from the Suharto fortune. Michael Backman, a researcher and business analyst in Asia, once calculated the Suhartos owned 1,247 companies. A May 1998 Asian Wall Street Journal article reported that these companies were owned by at least 20 different conglomerates, including Liem’s Salim Group and Hasan’s Kiani Lestari Group.Time magazine researched land ownerships and reported the Suharto family, on its own or through corporate entities, controlled some 3.6 million hectares of real estate in Indonesia — an area larger than Belgium. That includes 100,000 square meters of prime office space in Jakarta and nearly 40 per cent of the entire East Timor. 

No one knows how exactly much wealth the Suhartos accumulated. Family lawyers and children repeatedly denied allegations of vast wealth and Sofyan Wanandi, a businessman once closed to Suharto, said that the family had lost much of its fortune because of mismanagement and the weakened rupiah. 

When Time magazine estimated the Suhartos’ wealth at US$15 billion — of which $9 billion had been transferred from Switzerland to a nominee bank account in Austria — Suharto denied the report. He insisted that he had no bank deposits abroad and owned only 19 hectares of land plus $2.4 million in savings. 

In 1999, Suharto filed a lawsuit against Time magazine for defamation. After a nearly a decade of legal battles, Indonesia’s Supreme Court ordered Time to pay $106 million in damages.Time and its reporters refused to pay. 

A family lawyer, Juan Felix Tampubolon, told the London-basedFinancial Times that he had no idea how rich the Suharto children were. “Yes the children have companies but, as far as I know, these are legal,” he said. “All the accusations are merely that. There are newspaper clippings but no proof.” 

Nonetheless, in 2004, Transparency International, an anti-corruption watchdog, named Suharto the world’s greatest ever kleptocrat and put his fortune at up to $35 billion. The United Nations and the World Bank quoted this research when they launched an international campaign last year to help governments recoup state assets stolen by previous regimes. 

Efforts To Regain The Wealth 

Over the years there have been repeated efforts to recoup the money that critics claim Suharto stole from his country. In 2007, President Susilo Bambang Yudhoyono’s administration filed a civil suit for US$1.54 billion against Suharto and one of the seven major foundations he established. State prosecutors alleged he had stolen $440 million from the government. 

But even from beyond the grave, Suharto wields influence and loyalty. When he died in January at 86, President Yudhoyono immediately cancelled a scheduled appearance at a UN conference on retaking states’ stolen assets. Instead, he went to the Suhartos’ mausoleum to preside over the patriarch’s burial ceremony. Like most Indonesian leaders, Yudhoyono was a Suharto crony. And like his predecessors in office since 1989 — B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, and Megawati Sukarnoputri — he was unlikely to be able to retake the stolen assets. 

Vice President Jusuf Kalla, who repeatedly asked for a pardon for Suharto, owned businesses that thrived during the Suharto rule, according to Rachman. Kalla is currently chairman of the Golkar Party whose chief patron was Suharto. 

Last year Kalla tried to protect Suharto’s youngest son, Hutomo Mandala Putra, after his money was frozen in a BNP Paribas account in the popular offshore haven of Guernsey, UK. Yudhoyono and Kalla are only two of Suharto’s many cronies still in power. And hundreds, perhaps thousands, of military officers, politicians and business leaders remain loyal to the family. 

But critics like George Aditjondro and Fadjroel Rachman doubt that the country’s leaders have the political will to follow the money trail. Retaking the stolen assets, said Rachman, will take place only “when the young leaders of Indonesia replace the Suhartoists or the old leaders like SBY, JK and their generation.”Suharto and most of his circle escaped unscathed and rich. Suharto was never prosecuted. The public reason was that in 1999 doctors declared him too unhealthy to stand trial. But critics say the real reason is that successive administrations are still highly influenced by Suharto’s henchmen and cronies. 

Only one family member, Hutomo Mandala Putra, nicknamed Tommy, was prosecuted for corruption. He was convicted but acquitted on appeal. He is now facing a civil suit as part of a government bid to recover millions of dollars from Garnet Investment Limited that has been frozen by BNP Paribas. Tommy also spent four years behind bars for hiring hitmen to kill Supreme Court Judge Syafiuddin Kartasasmita. The judge had convicted Tommy for corruption and illegal possession of weapons. Hasan spent three years in prison for causing a US$244 million loss to the Indonesian government through a fraudulent forest-mapping project in the early 1990s. 

The military’s involvement in business also continues, prompting critics to ask if they are businessmen with weapons or soldiers with check books. In June 2006, New York-based Human Rights Watch published a 126-page report, Too High a Price: The Human Rights Cost of the Indonesian Military’s Economic Activities, describing how the Indonesian military raises money outside the government budget through a sprawling network of legal and illegal businesses. Working with many business partners, the military has provided paid services, marked up military purchases, and invested in hundreds of companies. 

Today Suharto is dead, Liem is living in Singapore, and Hasan is semi-retired in Jakarta where he plays golf. But the business model the three partners built in Semarang in the 1950s endures and still forms the pillars of the Indonesian economy. Whether or not anyone has the will or ability to undermine this corrupt and intertwined edifice is a question that is crucial to Indonesia’s future. 

Corp Watch is a San Francisco Bay Area-based non profit organization that has been educating and mobilizing people on human rights abuses by multinational corporations. Founded in 1996, it was initially known as TRAC (Transnational Resource & Action Center) with a website called Corporate Watch. In March 2001, it simplified the situation by using one name, one logo and a matching website address: CorpWatch…by julkarnainasso
Gambar

Struktur Federasi Indonesia


pada 1991, saya sering mewawancarai Rahman Tolleng dari Forum Demokrasi. Isunya macam-macam tapi selalu soal politik. Saya perhatikan banyak sekali ramalam dan analisis dia benar. Lama-kelamaan saya dekat dengan “Pak Rahman” maupun kawan-kawannya: Abdurrahman Wahid, Marsillam Simanjuntak dll.

Rahman orang Bugis yang kuliah di Bandung pada 1960an. Dia mulai terlibat gerakan mahasiswa dengan jadi pemimpin redaksi mingguan Mahasiswa Indonesia Jawa Barat. Pada 1968, ketika Soekarno tumbang dari kediktatorannya, Rahman termasuk mahasiswa yang mau berjuang “dari dalam” tubuh Golongan Karya. Dia jadi anggota parlemen serta jadi editor harian GolkarSuara Karya. Namun dia tak tahan dengan fasisme Orde Baru. Dia akhirnya dipenjara tanpa pengadilan pada 1974.

Ketika bebas, Rahman memutuskan kerja sebagai editor buku di Grafiti Pers. Dia banyak menerbitkan buku-buku bermutu. Orangnya teliti. Buku-buku pilihannya bagus-bagus. Terjemahan juga tak macam terjemahan hari ini yang sangat buruk. Kegemarannya yang unik adalah mengumpulkan kliping-kliping.

Dia dianggap orang Partai Sosialis Indonesia. Dia pernah dekat dengan Sutan Sjahrir maupun Soemitro Djojohadikusumo, dua tokoh PSI. Sjahrir bekas perdana menteri dan politikus yang menganjurkan diplomasi dengan Belanda. Seteru Sjahrir adalah Tan Malaka, yang menganjurkan jalur “perjuangan” atau militer, dalam program “Merdeka 100%.” Djojohadikusumo seorang ekonom yang terlibat “pemberontakan” Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia di Sumatra dan Sulawesi.

Terkadang “Pak Rahman” agak berlebihan hati-hati. Tapi saya bisa mengerti mengingat pengalaman pahitnya. Pada 1990an, dia mendirikan Forum Demokrasi bersama Abdurrahman Wahid, Marsillam Simandjuntak, Goenawan Mohamad dan sebagainya.

Rahman Tolleng sering bicara Pancasila sebagai “kompromi politik” –tak perlu diteruskan kesalahpahaman Pancasila sebagaiideologi. Pancasila hanya kompromi pada 1945 antara kubu Islam, yang ingin mendirikan negara Islam berdasarkan syariah Islam, dan kubu sekuler, yang ingin memisahkan agama dan negara. Artinya, Indonesia dan Islam juga terpisah, negara tak perlu campur tangan urusan agama, sebaliknya, agama juga tak ikut dalam hukum dan aturan negara.

Belakangan ini, ketika saya banyak wawancara soal buku saya, Rahman Tolleng beberapa kali mengatakan bahwa Belanda sebenarnya lebih mengerti soal pembagian administrasi kepulauan ini daripada para pemimpin Indonesia. Logikanya, studi tentang berbagai aspek budaya, politik dan sebagainya, di Pulau Jawa, Sumatra, Bali dan sebagainya, tentu saja, dikerjakan lebih banyak dan lebih serius oleh orang Belanda daripada para Indonesia.

 
Banyak ahli Belanda di Universitas Leiden menulis dan mempelajari mulai dari menterjemahkan Nagarakrtagama karya Prapanca, dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda, hingga bikin buku mutakhir soal communal violence pasca-Suharto. Ini artinya, dia merasa perlu melihat struktur yang dulu diusulkan Belanda sebagai struktur administrasi Indonesia.

“Tidak bisa main bagi-bagi gitu saja,” katanya.

 
Ini penting mengingat sejak merdeka pada 1945, Indonesia tak pernah lepas dari “pemberontakan” terhadap negara ini. Mulai dari Sabang sampai Merauke, selalu ada gerakan tidak puas dengan pembagian kekuasaan dan pemerintahan di Indonesia. Tentara Indonesia tugasnya cuma, sekali lagi, cuma melawan warga Indonesia.

Struktur yang dulu dirundingkan dengan Belanda adalah Republik Indonesia Serikat, disingkat RIS, sebagai suatu negara federasi yang berdiri pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag: Republik Indonesia,Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Jangan salah, BFO ini diwakili oleh orang-orang kulit coklat juga. Ketuanya adalah Sultan Hamid II dari Pontianak yang terpilih dalam konferensi federal di Bandung pada Mei 1948.

Kesepakatan Den Haag ini perlu dipelajari karena jangan-jangan lebih mencerminkan nilai-nilai budaya dan adat dari berbagai kelompok etnik dan struktur masyarakat yang ada di Indonesia. Perundingan Den Haag ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia.

Hasilnya, RIS terdiri tujuh negara bagian:

  • Republik Indonesia (ibukotanya Jogjakarta)
  • Negara Indonesia Timur (Makassar)
  • Negara Pasundan (Bandung)
  • Negara Jawa Timur (Surabaya namun didirikan di Bondowoso)
  • Negara Madura
  • Negara Sumatra Timur (Medan)
  • Negara Sumatra Selatan

Di samping itu, ada juga negara-negara yang berdiri sendiri dan tak tergabung dalam RIS namun duduk dalam BFO (selaku lembaga permusyawaratan). Struktur ini kepalanya adalah Ratu Belanda. Ia semacam commonwealth. Ini mirip negara-negara bekas jajahan Inggris. Mereka sudah merdeka –macam India, Malaysia dan lain-lain– namun masih punya lembaga persekutuan dengan London. Ini simbolis saja. Struktur ini dianggap bisa mengimbangi daerah-daerah yang relatif kecil ini dari negara-negara bagian yang jauh lebih besar atau besar penduduknya.

  • Jawa Tengah
  • Kalimantan Barat (Pontianak)
  • Dayak Besar
  • Daerah Banjar
  • Kalimantan Tenggara
  • Kalimantan Timur (tidak temasuk bekas wilayah Kesultanan Pasir)
  • Bangka
  • Belitung
  • Riau

Republik Indonesia Serikat memiliki konstitusi yaitu Konstitusi RIS. Piagam Konstitusi RIS ditandatangani oleh para pemimpin negara bagian dan daerah dari total 16 teritori:

  • Mr. Susanto Tirtoprodjo dari Negara Republik Indonesia menurut perjanjian Renville
  • Sultan Hamid II dari Daerah Istimewa Kalimantan Barat
  • Ide Anak Agoeng Gde Agoeng dari Negara Indonesia Timur
  • R.A.A. Tjakraningrat dari Negara Madura
  • Mohammad Hanafiah dari Daerah Banjar
  • Mohammad Jusuf Rasidi dari Bangka
  • K.A. Mohammad Jusuf dari Belitung
  • Muhran bin Haji Ali dari Dayak Besar
  • Dr. R.V. Sudjito dari Jawa Tengah
  • Raden Soedarmo dari Negara Jawa Timur
  • M. Jamani dari Kalimantan Tenggara
  • A.P. Sosronegoro dari Kalimantan Timur
  • Mr. Djumhana Wiriatmadja dari Negara Pasundan
  • Radja Mohammad dari Riau
  • Abdul Malik dari Negara Sumatra Selatan
  • Radja Kaliamsyah Sinaga dari Negara Sumatra Timur

Struktur ini dibubarkan pada 17 Agustus 1950. Umurnya cuma tujuh bulan. Konstitusinya, yang dibuat dengan detail dan sangat melindungi hak asasi manusia, secara sederhana diubah jadi UUD Sementara 1950, yang dijadikan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Struktur NKRI ini sangat terpusat pada Jakarta. Ini jadi lebih terpusat lagi ketika pada Juli 1959, Presiden NKRI Soekarno membubarkan parlemen dan konstituante serta memakai lagi UUD 1945. Konstitusi 1945 ini notorious tak melindungi hak asasi manusia.

Jenderal Soeharto memanfaatkan stuktur dan konstitusi ini selama tiga dasawarsa, menjadikan negara-negara bagian dan daerah-daerah itu jadi sangat tergantung proses pengambilan keputusan di Jakarta.

 
Pelanggaran hak asasi manusia dan penipuan prinsip-prinsip demokrasi di Indonesia juga termasuk salah satu yang paling parah dalam zaman modern. Hingga kini, struktur NKRI inilah yang dipakai di Indonesia…..by julkarnainasso